MEMO

Februari 2019

Namanya Siren. Wanita bermata cokelat terang itu setinggi aku. Rambutnya yang kecoklatan seolah bersinar ditimpa pendar lampu kamarku, meskipun seluruh tubuhnya pucat dan dingin. Aku masih ingat pertama kali bertemu dengannya di atap rumah saat aku sedang mengumpulkan keberanian untuk melompat dari lantai empat. Dan ucapan perpisahan darinya yang tidak bisa kulupakan hingga sekarang.

“Teruslah hidup, Ka.”

Hari itu menjadi hari di mana aku berhenti menyayat pergelangan tanganku.

***

Februari 2010

Sirena Kemala Dewi. 17 tahun. Salah satu murid top di SMA ternama di Medan. Juara umum di sekolah, berhasil meraih banyak penghargaan, bahkan memenangkan medali emas olimpiade astronomi tingkat nasional. Ayahnya bekerja di salah satu perusahaan farmasi ternama, ibunya seorang guru besar. Populer di antara teman-temannya dan memiliki seorang kekasih yang sangat perhatian membuatnya terlihat memiliki kehidupan yang sangat sempurna.

Wanita itu bernama Siren. Dan dia adalah pelaku prostitusi.

Entah sejak kapan, ia mulai menjadi seorang wanita panggilan. Mungkin sejak tahun pertama SMA, entahlah. Siren sudah tidak mengingatnya dengan jelas. Tidur dengan banyak lelaki, menorehkan cacat pada fisik dan jiwanya. Menjual harga diri demi merusak semua citra yang melekat pada dirinya. Dia sudah muak dengan ekspektasi dari semua orang.

Dia ingin segera berhenti.

Jadi, dia pun bertemu. Dengan Angel.

***

Februari 2019

Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari menjadi seorang makhluk hidup? Beban dari kehidupan itu sendiri. Setiap insan memiliki beban yang mereka pikul masing-masing. Dan untuk orang-orang dengan gangguan depresi mental sepertiku, beban ini bisa menjadi stressor terkuat yang membuatku menyerah pada kehidupan.

Dalam kasusku, anggapan buruk orang lain terhadapku, kalimat-kalimat kasar yang mereka lontarkan, dan kejadian buruk yang kualami beberapa minggu lalu menjadi stressor terhebat yang membuat gangguan depresiku kambuh. Dalam kasus Siren, stressor terbesar adalah ekspektasi berlebihan dari lingkungan. Orangtua, guru di sekolah, teman-teman selalu memaksanya untuk menjadi sosok yang lebih sempurna di bidang akademik. Dan, sejujurnya hal itu sangat melelahkan. Karena aku juga pernah mengalaminya.

***

April 2010

Apa kau pernah melihat malaikat?

Saat Siren pertama kali mencoba Angel, dia benar-benar melihatnya. Seseorang yang dia tidak ingat wajahnya dengan senyum yang mengembang, mengajak Siren untuk mengikutinya. Orang itu mengembangkan sepasang sayap putih dari punggungnya dan terbang. Dia benar-benar melayang. Dialah Angel. Siren yang masih terpana akan sayap-sayap seputih gading di depannya lantas berusaha mengejar Angel. Siren terus-menerus mempersempit jaraknya dengan Angel, hingga akhirnya Siren berhasil menangkap lengannya. Namun, setelahnya seluruh pandangan Siren menghitam.

Saat Siren tersadar, ia sudah berada di kamar mandi apartemen kekasihnya. Melihat seorang perempuan berambut cokelat yang tergenang di bak mandi dengan luka di pergelangan tangannya.

***

Februari 2019

Senyap. Sama seperti saat Siren mengakhiri ceritanya malam itu. Suara kipas angin mengisi jarak di antara sunyi. Logikaku sejujurnya tahu bahwa efek yang ditimbulkan narkotika itu adalah sebuah halusinasi berlebih karena ia bisa meningkatkan stimulus di otak. Namun, yang aku tidak pernah sangka adalah bahwa pemakainya benar-benar bisa melihat Angel.

Siren menyentuh bekas sayatan di tangan kiriku dengan jemarinya yang dingin. “Setelah berada di wujud ini, barulah aku bisa melihat bagaimana hancurnya seluruh orang-orang terdekatku dengan segala tindakan yang kuperbuat. Betapa hancurnya Harry saat menemukanku sudah tidak bernyawa di apartemennya, dan ia harus menghabiskan seluruh waktunya di dalam penjara karena telah menelantarkan mayat.”

Aku membisu, namun masih menatap mata coklat Siren yang terlihat pilu. ”Kuharap kau tidak mengambil keputusan yang akan kau sesali, Ka. Hidup memang tidak mudah. Tapi, kau jauh lebih kuat daripada aku, kau lebih tangguh dan berani daripada yang kau bayangkan. Dan satu-satunya obat dari segala keluh-kesahmu adalah seseorang yang tersenyum dan berkata dengan lantang bahwa kau, Eka, sudah berjuang dengan keras selama ini.”

“Aku tidak tahu apa makna dari pertemuan kita ini tapi, aku senang bisa bertemu denganmu. Rasanya seolah semua beban yang kupikul selama 19 tahun ini sudah lenyap. Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang. Terima kasih banyak, Ka.” Siren menatapku lekat-lekat, memegang pipiku dengan jemarinya yang dingin sembari menyunggingkan senyum terbaiknya. “Kau akan baik-baik saja mulai sekarang, Eka.”

Siren mendekatiku yang masih berusaha mencerna situasi di antara kami. Aku mengerjap saat tubuhnya yang dingin merangkulku dengan pelan.

“Teruslah hidup, Ka.”

Malam itu aku ditinggal pergi lagi oleh seorang sahabat yang berhasil memutarbalikkan duniaku. Malam itu aku berhenti menyayat pergelangan tanganku. Malam itu akhirnya aku bisa tertidur nyenyak tanpa bantuan obat-obatan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa damai.

***


11.43 PM

Feb 26, 2019

Advertisements

3 thoughts on “MEMO”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s