CLOVER (Part 1)

D i n i

Namaku Dini. 13 tahun. Aku tinggal di desa pesisir Pulau Belitung. Di sini, aku punya dua sahabat laki-laki. Si mulut kasar anti-cewek Putra dan si bodoh Alwi. Sejak kecil, kami selalu bersama. Jadi, tanpa sadar aku selalu mengira bahwa kehidupan kami bertiga yang damai ini akan terus berlanjut selamanya.

Namun, segalanya berubah saat ia masuk ke kehidupanku.

Namanya May. Perempuan asal Jakata yang baru saja pindah ke desa kami. Perempuan berkulit putih, wajah tirus, tubuh langsing, hidung mancung, senyum menawan, dan rambut lurus dikucir dua membuatnya terlihat cantik dan elegan. Perempuan yang sangat kontras denganku. Entah karena rasa penasaran, aku mendekati May lebih dulu. Dan akhirnya aku memutuskan ia bergabung di kelompok kami meskipun Putra awalnya menolak. Tapi, keputusanku sudah bulat, jadi Putra hanya bisa diam.

Dan keputusan itu menjadi hal yang paling kusesali di tahun-tahun berikutnya.

P u t r a

Aku benci perempuan. Mereka cerewet, cengeng, dan membuatku jengah. Namun, ada dua orang perempuan yang membuatku tetap betah. Ibuku dan sahabatku Dini. Yah, meskipun sejujurnya aku menganggap Dini lebih seperti laki-laki daripada perempuan karena perangainya. Jadi, aku benar-benar kesal saat Dini seenak jidatnya memasukkan perempuan itu ke dalam grup kami. Padahal aku sudah bilang, grup ini hanya butuh satu orang perempuan. Tapi, apalah dayaku melawan si kepala batu itu. Jadi, aku hanya pasrah. Anggap saja dia tidak ada.

Hingga hari itu tiba. Hari yang mengubah seluruh pandanganku terhadapnya.

Hari Minggu dan langit sedang cerah-cerahnya. Jadi Dini mengajak kami bermain di pantai, dan aksi kami pun dimulai. Memanjat tebing, lalu terjun ke lautan dari ketinggian. Kami bertiga sudah melompat duluan, kecuali perempuan itu. Aku bisa melihat wajah May yang memucat saat Dini berteriak menyuruhnya lompat. Yah, bodo amatlah. Tinggalkan saja si manja itu. Aku berteriak pada Dini dan menyuruhnya meninggalkan May, hingga aku melihatnya. Perempuan manja itu benar-benar melompat dan masuk ke dalam lautan. Dan dia dengan bodohnya tenggelam.

Kami semua refleks membawanya ke pantai. May menangis keras sambil menahan sakit, yah siapa suruh dia terjun dengan posisi telungkup. Dini dan Alwi pergi mencari es batu dan handuk, sedang aku dengan malasnya harus menemani si cengeng ini. Ah, berisik. May terus-terusan menangis, jadi aku membentaknya.

“Woy, mau sampai kapan nangis, hah?!” Aku berdecak kesal sambil menggerutu. “Yah, tapi kau benar-benar berani. Tidak banyak orang desa yang berani terjun dari ketinggian seperti itu, tapi kau melakukannya. Jadi, aku tidak punya pilihan selain mengizinkanmu masuk ke dalam kelompok kami.”

Aku benar-benar kesal padanya, tapi dia sudah melakukan hal di luar dugaanku, jadi aku mengapresiasinya. Wajah May yang terkejut berubah menghangat dan saat itulah aku melihatnya tersenyum. Senyuman yang sangat manis dan membuatku, ehem, terpana.

Senyuman yang langsung jatuh tepat di relung hatiku.

M a y

Aku orang yang sangat pemalu. Sejujurnya di kota asalku pun aku tidak memiliki teman. Meskipun awalnya canggung, tapi aku sangat senang saat Dini mengulurkan tangannya padaku. Aku ingin punya teman, jadi aku berusaha lebih berani dan menunjukkannya kepada mereka. Dini menjadi teman yang berharga bagiku, dan aku pun luluh, pada kebaikan Putra hari itu. Sejak saat itu, aku dan Putra semakin dekat, dan aku semakin menyukainya.

Tapi, kebahagiaanku hanya berlangsung sekejap mata.

Saat itu aku bertemu dengan Dini di tepi pantai. Ia termangu di hadapan siluet matahari tenggelam, sedang memandangi cincin di jari manisnya. “Cincinnya sangat indah.” Aku menegurnya dengan senyuman.

“Ini dari Putra.” Kata-kata Dini sontak membuatku terkejut. Entah mengapa hatiku terasa sangat perih. “Aku selalu bermimpi menjadi pengantinnya Putra. Meskipun itu lima atau sepuluh tahun lagi, aku akan tetap menunggu dan berada di desa ini dengan Putra. Itu adalah mimpiku.”

Aku terdiam, suaraku tercekat, hatiku terasa sakit dan sesak. Jadi, saat Dini memperlihatkan cincin itu padaku, aku tidak sengaja menjatuhkannya. Dini benar-benar marah padaku. Dia berteriak bahwa semua ini salahku, dan mengancam jika aku tidak menemukannya, persahabatan kami akan berakhir. Kata-kata itu membuat hatiku tercabik-cabik. Meskipun begitu, Dini adalah orang yang berharga bagiku. Jadi aku berusaha mencari cincin itu. Aku menyisir tepi pantai berulang kali. Tidak peduli hujan mulai turun dan terus menderas. Namun, nihil. Sebelum aku menemukan cincin itu, aku lebih dulu tersapu oleh air pasang.

A l w i

Entah sejak kapan aku mulai menyukai Dini. Aku bahkan tidak tahu alasan aku menyukainya. Aku hanya, yah, suka. Namun, yang bisa kulihat hanyalah punggungnya yang tidak tergapai. Sama seperti Dini yang tidak pernah menjangkau Putra. Meskipun aku selalu berada di sampingnya selama ini, dia tidak pernah menatapku. Dan pemandangan yang selalu kulihat adalah ekspresi murung Dini saat melihat Putra dan May tertawa bersama.

Sejujurnya hatiku sakit karena Dini tidak pernah melihatku. Tapi, hatiku jauh lebih perih saat melihat orang yang kusayangi tidak kunjung bahagia. Hingga hal yang membuat hatiku lebih hancur lagi adalah saat Dini menangis sambil terduduk melihat Putra meneriakkan nama May dan berlari meraihnya saat ia ditemukan pingsan di tepi pantai.

Aku ingin orang yang kusayangi bahagia. Jadi, aku sangat senang saat mendengar kabar bahwa May sudah pindah ke luar kota. Akhirnya, aku bisa melihat kebahagiaan di wajah orang yang kusayangi. Meskipun itu artinya, aku harus menghancurkan hatiku sendiri.


11.25 pm

March, 9 2019

Advertisements

2 thoughts on “CLOVER (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s