CLOVER (Last Part)

D i n i

Kemarin, May tiba-tiba meneleponku.

Aku benar-benar terkejut saat May meneleponku, entah bagaimana aku harus bersikap saat berhadapan dengannya, mengingat kejadian lima tahun lalu yang masih sangat membekas di ingatanku. Karena ulahku, May harus terseret air pasang dan pingsan. Sejujurnya, aku masih merasa bersalah kepada May. Namun, rasa bersalah itu berganti menjadi rasa khawatir saat May memberitahuku bahwa dia akan datang ke desaku dan meminta izin untuk menginap di rumahku. Aku benar-benar ingin menolaknya, namun ibuku sudah lebih dulu mengiyakan permintaan May, jadi aku hanya bisa pasrah.

Semakin hari, rasa khawatirku berubah menjadi rasa sesak yang menyakitkan. Namun, tidak ada yang bisa kulakukan meskipun aku tidak ingin May berjumpa dengan Putra. Dan, mungkin, sudah saatnya untuk melepaskan hal yang memang tidak ditakdirkan untukku.

P u t r a

Perempuan itu sedang berdiri di hadapanku. Senyumnya masih sama seperti saat itu, senyum yang selalu kurindukan lima tahun belakangan ini. Namun, kebahagiaan saat melihat May berada di sisiku sekarang langsung lenyap saat aku tahu bahwa dia akan menikah dengan seorang saudagar kaya di kota antah-berantah sana.  Jadi, tanpa sadar aku bersikap dingin padanya.

“Kenapa?! Kenapa kamu tidak pernah membalas satu pun surat yang kukirim?! Lima tahun lalu, apa kau tahu berapa banyak surat yang sudah kutulis?! Bahkan setelah aku pindah aku selalu mengirimkan surat untukmu. Kenapa kau tidak membalas satu pun surat yang kukirimkan?!” May tiba-tiba berteriak dan menangis di depanku. Mendengar perkataannya, emosiku langsung melonjak dan membalas teriakannya.

“Haa?! Bukannya kamu yang tidak pernah membalas suratku?! Dasar pembohong!”

“Kau yang pembohong! Aku tidak pernah menerima satu pun surat darimu!”

M a y

Ah, sejujurnya aku tidak ingin kembali lagi ke desa ini. Rasanya sangat menyesakkan. Apalagi seluruh desa sudah mengetahui kabar perjodohanku dengan seorang saudagar kaya, pasti aku akan menjadi buah pembicaraan semua orang. Namun, ada rasa yang menjanggal jika aku tidak kembali. Karena jika aku ingin memulai sesuatu yang baru, aku harus bisa melepaskan satu-satunya orang yang kucintai selama ini. Jadi, aku kembali. Untuk mengucapkan selamat tinggal pada Putra, dan mungkin jika aku masih memiliki kesempatan, aku ingin Putra memintaku untuk bisa bersamanya.

Hening menyelimutiku dan Putra setelah adegan maki-memaki yang terjadi. Aku benar-benar ingin menangis saat mengetahui bahwa ternyata Putra selalu mengirimkan surat untukku. Akhirnya, aku masih memiliki kesempatan. Tapi, mengapa tidak ada satu pun surat yang kuterima?

Setelah memikirkan banyak kemungkinan, emosiku langsung memuncak saat aku tahu hanya ada satu orang yang tidak pernah menyukai hubunganku dengan Putra. Jadi, aku mencarinya. Sahabat pertamaku yang berharga sekaligus perempuan yang paling kubenci. Aku berlari memutari desa mencari Dini, hingga tidak memedulikan Putra yang terus mengejarku di belakang.

Akhirnya aku menemukan Dini di pasar sedang bersama dengan Alwi. Dengan emosiku yang masih membara, aku langsung menampar Dini di depan semua orang. “Dini, kau benar-benar tega! Sejujurnya aku ingin melupakan kejadian lima tahun yang lalu, dan satu-satunya niatku mengunjungimu hanyalah untuk berbaikan dengan kalian semua! Tapi, tapi kenapa kamu setega itu sampai menyembunyikan semua surat yang aku dan Putra tulis?!! Sebegitu inginnya kamu bersama Putra? Haa?!!”

Ah, aku akhirnya meluapkan semua kekesalanku pada Dini. Aku bahkan bisa melihat wajah kesal Dini saat ia menatapku tidak percaya.”Haa?!! Surat apa?!! Dengar ya, aku tidak tahu apa-apa soal surat yang kau bicarakan!!”

“Jangan pura-pura polos, Dinii!!!”

“May, tenanglah.”

Putra menghentikanku saat aku ingin menampar Dini lagi.“Lepaskan aku Put. Sudah cukup, Din!! Tindakanmu benar-benar berlebihan, kau tahu?!!”

“Tenang May, mana mungkin Dini melakukan hal seperti itu.” Putra terus saja membela Dini, membuatku makin naik darah. Andai Putra tahu tabiat Dini seperti apa. Tapi, setelah mendengar ucapan Alwi, emosiku menguap seketika.

“Benar. Itu bukan salah Dini. Aku yang melakukannya.”

A l w i

“Kau tahu kalau ayahku adalah tukang pos, bukan? Ayahku tiba-tiba memintaku mengantarkan surat ke rumah Putra, dan saat aku tahu bahwa itu dari May, aku menyembunyikannya. Lalu, aku terus-menerus menyimpan semua surat dari kalian dengan alibi membantu pekerjaan ayahku.”

Aku menghela napas. Sejujurnya, aku sudah menduga kejadian ini akan terjadi cepat atau lambat, aku juga sudah memprediksikan ekspresi terkejut mereka ketika mendengar penjelasanku.

“Kau!! Kenapa kau setega itu Alwi?!!” May benar-benar berteriak sambil menahan air matanya. Jika tidak dicegah Putra, kurasa dia sudah menamparku seperti ia menampar Dini tadi. Maafkan aku May, tapi bagiku, satu-satunya hal yang paling penting adalah kebahagiaan Dini.

“Aku tidak ingin kalian berdua bersama. Karena aku tidak ingin melihat Dini menangis lagi.”

D i n i

Sudah seminggu berlalu sejak kami lulus SMA. Kami berempat perlahan melangkah maju ke masa depan. Putra memutuskan menjadi nelayan dan menetap di desa bersama May yang akhirnya juga memutuskan tinggal di desa setelah Putra memaksanya. Perjodohan May juga dibatalkan. Akhirnya, setelah pasang surut hubungan mereka, seperti sudah digariskan takdir, sejauh apapun terpisah, mereka pasti akan tetap bersama.

Hari ini adalah hari keberangkatanku. Aku memutuskan untuk pindah ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Aku meninggalkan semua luka dan masa lalu di desa ini, dan mencoba memulai hidup baru di kota.

“Hei, butuh bantuan?” Aku langsung berbalik menuju sumber suara karena aku memang sedang kesulitan mengangkat koper ke bagasi bus. Dan tebak siapa yang berada di hadapanku? Alwi yang sedang tersenyum menawarkan bantuan. Aku benar-benar tidak percaya saat tahu dia berencana mencari pekerjaan sebagai tukang pos di kota yang sama denganku. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban dari Alwi. Entahlah, tapi terkadang, takdir memang menyebalkan dan sulit untuk diprediksi.

Akhirnya, semua orang, seberapa dewasa pun, bisa bertindak sangat kekanak-kekanakan dalam sekejap. Semua orang bisa bersikap sangat keras kepala, egois, acuh tak acuh, dan saling membenci.

But, believe it or not? Right after the rainstorm, the ocean is very peaceful.


5.04 pm

April 12, 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s